Wednesday, December 8, 2010

20 FAKTA DARI TUBUH KITA YANG BARU TERUNGKAP

HBA

Berikut adalah beberapa fakta yang mungkin dikatan "gila" pada tubuh manusia :
1. Setiap jam satu miliar sel di daam tubuh harus diganti.

2. Mata manusia bisa membedakan 500 warna abu-abu.

3.Tulang paha manusia lebih kuat dari beton.

4. Hati manusia mampu menciptakan tekanan yang cukup untuk menyemprotkan darah sejauh 30 kaki (9 m).

5. Mata kita selalu berukuran sama sejak lahir, tapi hidung dan telinga kita tidak pernah berhenti tumbuh.
6.
Batuk rata-rata yang keluar dari mulut kita berkecepatan 60 mil (96,5 km) per jam.
7.
Janggut adalah bulu yang tumbuhnya paling cepat pada manusia. Jika pria rata-rata tidak pernah memangkas janggutnya, makan hal ini akan membuatnya tumbuh hingga hampir 30 kaki dalam hidup.
8.
Mata bayi tidak menghasilkan air mata sampai si bayi berumur sekitar enam atau delapan minggu.
9.
Setiap orang memiliki bentuk lidah yang berbeda.
10.
Bersin dapat melampaui kecepatan 100 m/jam.
11.
Sel-sel mati dalam tubuh kita akhirnya dibawa ke ginjal untuk eksresi.
12.
Senyum adalah ekspresi wajah yang paling sering digunakan. Senyum dapat dilakukan di mana saja dari 5 hingga 53 pasang otot wajah.
13.
Satu dari 20 orang memiliki tulang rusuk lebih.
14.
Orang-orang dengan kulit gelap tidak akan mengkerut secepat orang dengan kulit terang.
15.
Darah manusia melalui perjalanan 60.000 (96.540 km) per hari pada perjalanan melalui tubuh.
16.
85% dari populasi dapat menekuk lidah mereka ke dalam sebuah tabung.
17.
Dibutuhkan tujuh detik untuk makanan untuk pergi dari mulut ke lambung melalui kerongkongan.
18.
Hati wanita berdetak lebih cepat daripada laki-laki.
19.
Dalams atu hari, jantung kita berdenyut 100.000 kalo.
20.
Rambut terbuat dari bahan yang sama seperti kuku.

DI PERKOSA 40 ORANG PRIA SELAMA 2 TAHUN

RADAR JAMBI: TONI.S

Menyakitkan. Emma seorang siswi teladan di sebuah sekolah menjadi korban pemerkosaan, penyekapan dan penyiksaan oleh geng beranggotakan lebih dari 40 orang pria dewasa. Emma yang kini sudah terselamatkan dan bangkit dari keterpurukan selama 2 tahun dalam sekapan geng itu mengisahkan pengalaman pilunya.
Ia bertutur, statusnya sebagai siswi cantik dan teladan di sekolah berubah menjadi kelabu ketika banyak teman temannya sering mengajak chatting dan SMS hingga tengah malam. Saking banyaknya penggemar dan kawan mengajak chatting, Emma sulit membedakan mana yang baik dan buruk.



Saat itu ia diajak bertemu dengan temannya setelah puas mengobrol chatting. Ia mengira teman itu adalah orang baik dan penggemarnya karena kejadian sebelumnya juga aman dilakukan dengan kenalan yang lain.
Ternyata dugaan Emma salah, ia terjebak oleh geng keji yang biasa melakukan pemerkosaan dan mencari mangsa gadis gadis belia. Dalam cerita yang ditulis the sun, siswi asal Skotlandia itu kemudian diajak oleh sekawanan pria dewasa. Dia baru sadar setelah terbangun dalam kondisi sangat lemah dan begitu membuka mata, dilihatnya sekitar 40 orang pria dewasa berdiri menertawakan Emma yang terbaring tanpa sehelai kainpun.
Ia berulangkali diperkosa, dipukuli dan dibius oleh geng kejahatan seksual tersebut. Penderitaan Emma berlangsung hingga dua tahun berada dalam penyekapan dan dipaksa melayani anggota geng itu tanpa bisa berontak.

Setelah berhasil bebas dari penyekapan geng jahat itu, Emma mampu bangkit kembali dan memulihkan fisik dan mentalnya. Sekarang ia sudah berusia 21 tahun punya anak dua dan menjadi pegiat sosial yang berusaha menyelamatkan para remaja agar tidak mengalami seperti dirinya.

Dalam kisahnya, Emma mengkhawatirkan banyak remaja terjebak oleh rayuan dan pujian melalui SMS atau chatting via internet maupun handphone. Para remaja dengan kondisi emosi yang masih labil akan mudah terbuai oleh rayuan dan pujian. Waspadalah, karena diantara teman itu ada penyusup dari kawanan mafia kejahatan seksual dan kekerasan.
Apalagi di Inggris, banyak geng geng yang terkoordinasi dengan baik mencari mangsa anak anak sekolah untuk dijadikan budak mereka.

Semua "harta berharga" milik Emma telah dirampas dengan kejam. Beruntung nyawanya selamat setelah ditolong oleh seorang pria kabur dari penyanderaan geng itu untuk kemudian dibawa ke WC umum bersembunyi beberapa saat.
Walau ia sudah sampai di rumah dan bersatu dengan keluarga, Emma tidak segera menceritakan pengalaman pahit itu kepada orangtuanya. Ia bertahan dalam kesakitan dan memendam kesedihan selama setahun. Setelah keluarganya merasa aman dari cengkeraman geng seks itu, ia kabur dan mengajak keluarganya pindah rumah jauh dari tempat semula.
Dari situ Emma bangkit dan berjuang untuk menyelamatkan para remaja dari kekejaman geng dengan meningkatkan kesadaran kewaspadaan. Emma menyarankan agar remaja tidak terbujuk rayu dan tetap waspada ketika ditawarkan minuman keras dan anggur yang menggiurkan. Apalagi tawaran tumpangan mobil mewah yang ternyata adalah bagian dari geng tersebut

MENGAPA DOKUMEN AS ITU BOCOR ??

RADAR JAMBI: TONI.S
Minggu, 5 Desember 2010 | 06:42 WIB<


WikiLeaks
Julian Assange pada kop situs WikiLeaks.
Dunia kembali dihebohkan dengan bocoran sekitar 250.000 dokumen rahasia lewat situs Wikileaks pada hari Minggu (28/11/2010). Dokumen itu berisi kawat-kawat diplomatik rahasia antara 274 kedutaan serta konsulat AS di mancanegara di satu pihak dan Kementerian Luar Negeri serta Departemen Pertahanan AS di Washington di pihak lain. Sebelumnya pada bulan Juli lalu, situs Wikileaks membocorkan sekitar 90.000 dokumen rahasia tentang perang di Afganistan dan pada bulan Oktober lalu dibocorkan pula ribuan dokumen rahasia tentang perang Irak

Situs Wikileaks seperti mendapat amunisi baru. Pengelola situs tetap bertekad merilis ribuan dokumen rahasia AS itu. Pengelola mendapat dukungan dari lima media besar dunia, yaitu The New York Times, The Guardian, Le Monde, Der Spiegel, dan El Pais. Media-media tersebut mengerahkan 120 wartawan untuk menganalisis dokumen rahasia tersebut.


Menlu Italia Franco Frattini menyebut bocoran baru dokumen rahasia oleh situs Wikileaks itu sebagai serangan 11 September di bidang diplomasi. Ada pula yang menyebut sebagai tsunami dalam dunia diplomasi dan jurnalisme.

Majalah Jerman Der Spiegel menyebut, jejaring secret internet protocol router network (SIPRN) pada sistem komunikasi rahasia menjadi biang bocornya ratusan ribu dokumen rahasia itu. Jejaring ini digunakan Departemen Luar Negeri AS dan Departemen Pertahanan AS. Intelijen buruk.
Sesungguhnya kasus bocoran dokumen rahasia AS itu tak terlepas dari buruknya sistem kinerja institusi intelijen AS yang dibangun pasca-11 September 2001. Sejumlah dinas intelijen AS gagal mencegah peristiwa serangan teroris 11 September 2001. Setelah itu muncul problem dalam tukar-menukar informasi. Koordinasi antara pelbagai dinas intelijen AS juga semakin kacau. Semua ini membuat AS terus berusaha memperbaiki sistem kinerja intelijennya.

Perbaikan itu dilakukan dengan cara meningkatkan perlindungan terhadap sistem keamanan jaringan elektroniknya. Upaya ini dilakukan melalui uji coba secara rutin. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana kesiapan jaringan mereka mampu menghadapi segala bentuk bahaya, termasuk penyusupan dan kebocoran.

AS membentuk sistem jejaring internet Intellipedia pada 6 April 2006. Tujuannya adalah untuk melakukan perubahan mendasar dalam budaya kinerja berbagai dinas intelijen. Seiring dengan itu, juga diterapkan sistem kinerja komprehensif. Dengan cara ini berbagai dinas intelijen dan para pegawai bisa melakukan tukar-menukar informasi dengan mudah dan cepat.

Penerapan sistem jejaring internet intellipedia itu membuat terjadinya pergeseran signifikan dalam pola kinerja berbagai dinas intelijen AS. Pola kinerja itu berubah dari sebelumnya, di mana dinas intelijen hanya bertugas mengantisipasi bahaya dan cara menghadapinya. Kini pola kerja itu memasukkan unsur preventif. Dengan pola baru ini titik lemah dalam sistem informasi yang diterapkan AS itu tak akan terlacak.

Maka, AS mendirikan situs rahasia yang menyerupai sistem jejaring My Space dan Facebook untuk sarana tukar-menukar informasi antara berbagai dinas intelijennya itu. Times New Roman serif Pada 22 September 2008, AS meluncurkan situs intelijen yang diberi nama ”A-Space”. Situs ini dilengkapi dengan sistem pengamanan dari kemungkinan aksi penyusupan. Situs baru tersebut kini digunakan semua dinas intelijen AS saat mengirim laporan.
AS juga memiliki program Wikiscanner untuk sistem pemeriksaan sumber laporan yang dilakukan oleh pakar Wikipedia dari dinas intelijen AS. Para pakar Wikipedia tersebut menyeleksi secara ketat laporan dari mancanegara yang bisa diedit. Para pakar juga memilih jenis laporan yang harus dibuang. Program Wikiscanner telah menghapus sekitar 5,3 juta laporan yang masuk ke berbagai dinas intelijen AS.

AS juga melakukan aksi rahasia dengan memasang situs dan alamat e-mail siluman. Hal ini bertujuan untuk mengecohkan jaringan teroris dan memecah-belah barisannya.< Pada Juni 2009, AS membentuk sistem komando militer untuk melindungi jaringan elektronik intelijen AS dari upaya penyusupan oleh negara atau lembaga non-negara, seperti kelompok teroris dan juga hacker perseorangan. eiring dengan itu, sistem baru itu memiliki kelemahan fatal. Institusi intelijen menjadi gemuk secara personel, anggaran, ataupun struktur lembaga. Dengan demikian, maka akan sulit mengontrol arus informasi yang mengalir begitu cepat.

AS mempekerjakan sebanyak 854.000 personel yang mengantongi izin untuk melakukan kegiatan intelijen. Kegiatan ini juga melibatkan 1.271 lembaga pemerintah dan 1.931 perusahaan swasta dalam bidang intelijen.
Mereka bekerja pada puluhan ribu situs jejaring di AS, 51 lembaga federal, dan pusat-pusat komando militer pada 15 kota di AS.

Dinas intelijen luar dan dalam negeri sedikitnya menyampaikan 50.000 laporan intelijen setiap tahun. Laporan ini meliputi analisis terhadap dokumen, percakapan, dan kawat diplomatik.
Jumlah personel dinas intelijen pada Departemen Pertahanan AS juga bertambah dari hanya 7.500 personel pada 2002 menjadi 16.500 personel saat ini. Satuan anti-teroris yang berada di bawah FBI bertambah dari 35 satuan menjadi 106 satuan.
Institusi intelijen AS yang gemuk itu memang sengaja dirancang untuk menghadapi peningkatan ancaman terhadap kepentingan AS di luar negeri, terutama setelah terseok-seoknya operasi militer AS di Irak dan Afganistan. Hal itu mendorong AS membangun pula jaringan agen atau kaki tangan di luar negeri. Semua jaringan agen AS itu tidak berada di bawah satu komando sehingga sulit untuk mengontrolnya.

Bersamaan dengan itu pula, ancaman teroris di dalam negeri AS juga terus meningkat. Ancaman ini datang dan dilakukan oleh kaum imigran yang kini berkewarganegaraan AS. Kaum ini membentuk sel-sel tidur. Hal ini menjadi tantangan serius bagi institusi intelijen AS.

AS menggunakan jejaring internet dalam aktivitas intelijennya. Jaringan ini menjadi sarana tukar-menukar informasi antara berbagai dinas intelijennya. Jaringan ini juga menjadi jalur komunikasi antara AS dan negara-negara sahabat. Jaringan serupa juga dipakai untuk merekrut agen intelijen.

Semua ini justru membuka jalan baru dan mudah bagi para hacker untuk menyusup atau mencuri informasi.
Banyak pendukung

Dalam konteks itu, muncul situs Wikileaks yang diluncurkan secara resmi pada tahun 2007 oleh hacker asal Australia, Julian Assange (39), dengan mengambil basis di Swedia.
Situs Wikileaks didukung banyak organisasi nonpemerintah. Dukungan diberi karena mereka mengusung prinsip hak untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan tukar-menukar informasi. Keinginan ini didukung dengan hasrat agar identitas sumber tak terlacak dan sang sumber berita itu tidak terancam bahaya. Times New Roman
Situs Wikileaks bermula sebagai forum dialog di jejaring internet antara para aktivis dari mancanegara. Forum ini didasarkan pada prinsip saling menghormati dan tujuan lain adalah penegakan hak asasi manusia. Para aktivis itu berkeyakinan bahwa jalan terbaik untuk menghentikan pelanggaran adalah dengan mengungkap pelanggaran itu sendiri ke permukaan. Mereka ingin menggiring perhatian publik ke arah pelanggaran tersebut serta mendorong para pegawai pemerintah di mancanegara membocorkan bukti-bukti tentang praktik kezaliman dan ketimpangan.

Keberhasilan situs Wikileaks memublikasikan dokumen resmi negara sangat rahasia itu membuat situs tersebut meraih popularitas secara cepat. Keberhasilan Wikileaks itu juga tak terlepas dari dukungan sekitar 800 sukarelawan dan puluhan ribu simpatisan.

Situs Wikileaks tidak memiliki muatan politis dalam melaksanakan misinya. Obsesi situs tersebut hanya semata-mata mengungkap kebenaran atau menampilkan sebuah realitas yang buruk. Namun, dampak politik dari aksi situs Wikileaks itu akan pasti signifikan. Sikap politik hakiki terburuk dari para pemimpin di berbagai belahan bumi ini tampak sudah terang benderang alias tidak ada rahasia lagi berkat bocoran dari situs Wikileaks.

Dulu muncul jargon, dunia baru muncul pasca-11 September 2001 dan kini lahir dunia era pasca-bocornya ribuan dokumen rahasia oleh situs Wikileaks.
Para pengambil keputusan baik samar-samar maupun terang-terangan akan menyusun strategi baru soal kebijakan diplomasi di negaranya dengan bersandar pada bocoran dokumen rahasia situs Wikileaks itu.

WIKILEAK DATA RAHASIA KEDUBES AS DI SELURUH DUNIA

RADAR JAMBI: TONI.S


Controversy: The whistle-blowing website founded by Julian Assange
 "Suatu pukulan telak bagi diplomasi Amerika." Demikian penilaian mantan Menteri Luar Negeri Belanda, Ben Bot, mengenai publikasi korespondesi rahasia di antara diplomat Amerika Serikat.

Sebagian dokumen rahasia itu dibocorkan situs WikiLeaks dan nama Belanda disebut hampir 2.500 kali. Ben Bot menjadi menteri luar negeri selama 2003-2007, periode yang mencakup saat Belanda memutuskan ikut mengirim tentara ke Irak dan Afghanistan.
Tidak pelak lagi, hal itu merupakan topik pembicaraan penting antara Kedutaan Besar Amerika di Den Haag dan Departemen Luar Negeri Amerika di Washington.

Suatu data statistik yang diterbitkan oleh mingguan Jerman, Der Spiegel, juga menunjukkan meningkatnya lalu lintas pengiriman berita pada masa hangatnya diskusi mengenai Irak dan Afghanistan.
Mengenai isi beritanya, hingga sekarang belum banyak yang diketahui. Perlu menunggu Wikileaks mempublikasikan korespondensi para diplomat Amerika dengan kedutaan besar mereka di Den Haag.

Menjawab pertanyaan Radio 1 Journaal (NOS) mengenai dampak pembocoran berbagai dokumen tersebut, Ben Bot menyatakan, dalam tempo dekat ini, dampaknya akan negatif:

"Jika bertemu dengan diplomat Amerika, pejabat resmi di berbagai negara, menteri, pejabat tinggi, akan banyak menahan diri. Mereka tentunya akan berpikir, apa yang saya katakan sekarang ini, beberapa tahun kemudian akan jadi rahasia umum. Jadi, lebih baik menahan diri saja. Dan ini, bagi diplomasi Amerika, dalam waktu dekat ini, akan merupakan tamparan telak," katanya.

Gejala menahan diri ini, menurut Ben Bot, bukan hanya merugikan kebijakan politik Amerika, tapi juga merugikan kebijakan politik luar negeri di seluruh dunia.

Beberapa dokumen yang bocor memang memuat banyak kutipan yang bisa membuat malu Amerika. Misalnya menyebut Presiden Rusia Medvedev dan Perdana Menteri Putin sebagai Robin dan Batman. Tanggapan Ben Bot mengenai hal ini:

"Tentu saja itu tidak bijaksana. Bahkan bagi seorang diplomat yang sedang mengirim berita rahasia secara, secara blak-blakan. Seorang diplomat seyogyanya tidak menggunakan sebutan seperti itu."

Sekutu SetiaNama Belanda kadang disebut dalam berbagai dokumen yang telah dipublikasikan sekarang ini. Di antaranya campur tangan langsung Presiden Prancis, Sarkozy, mengenai diskusi di Belanda tentang kelangsungan misi militer di Afghanistan, pada masa jabatan terakhir Jan Peter Balkenende.

Dari dokumen lain terungkap penilaian positif Amerika pada Menteri Luar Negeri Belanda saat itu, Maxime Verhagen. Mereka menyebutnya sebagai sekutu setia.


Dokumen rahasia Amerika Serikat dibongkar habis-habisan oleh pengelola situs WikiLeaks. Dalam dokumen tersebut tercantum beberapa rencana besar AS. Termasuk, upaya Negeri Adidaya ini untuk memata-matai pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa dan diplomat dari negara lain.

Dokumen ini juga menyoroti peran lanjutan Korea Utara dalam perdagangan senjata dunia. ini termasuk penyelundupan peluru kendali atau rudal yang mampu membawa muatan nuklir ke Iran.



Berikut topik sejumlah bocoran dari dokumen rahasia AS yang dipublikasikan oleh WikiLeaks:

1. AS tengah menjalankan kampanye intelijen rahasia yang ditargetkan pada pimpinan PBB, termasuk Sekretaris Jenderal PBB dan para wakil anggota Dewan Keamanan PBB dari Cina, Rusia, Prancis dan Inggris. Bahkan, AS berusaha untuk mengetahui kata sandi dari jaringan komunikasi, jadwal kerja dan informasi pribadi lainnya.

2. Raja Arab Saudi telah berulang kali mendesak Amerika Serikat untuk menyerang Iran dalam misi menghancurkan program nuklirnya. Dalam dokumen tersebut, Arab Saudi dan sekutunya gelisah akan aksi militer terhadap Teheran. Pimpinan Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Mesir menyebut Iran sebagai ancaman eksistensial yang akan membawa keadaan ini ke dalam perang.

3. Dalam dokumen rahasia ini tercantum bahwa Iran telah memperoleh rudal canggih yang didesain berdasarkan desain Rusia dan dipercaya menjadi senjata utama terhadap serangan di Teheran.

4. Iran memperoleh 19 rudal dari Korea Utara pada 24 Februari 2010.

5. Badan Intelijen AS telah meningkatkan kewaspadaan akan program senjata nuklir di Pakistan. Para pejabat AS berpendapat kondisi ekonomi yang tengah terpuruk di Pakistan dapat memungkinkan penyelundupan bahan nuklir kepada para teroris.

5. Upaya untuk mengosongkan kamp penjara di Teluk Guantanamo. Salah satunya adalah permintaan kepada diplomat Slovenia agar bersedia memungut seorang napi bila mereka ingin bertemu dengan Presiden AS Barack Obama.

6. Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh mengatakan kepada Jenderal David Petraeus bahwa ia akan terus menyalahkan AS atas basis-basis Al-Qaidah di negaranya. “Kami akan terus mengatakan bahwa bom adalah milik kita, bukan milikmu,” kata Saleh seperti dikutip dalam ringkasan terbaru pembicaraan. [via liputan6]

Tentang Wikileaks
Wikileaks, situs whistleblower yang banyak merilis isu sensitif tentang dunia politik, diplomasi, hingga hak asasi manusia, telah merilis sekitar 250 ribu dokumen pemerintah Amerika Serikat yang bersifat rahasia dari berbagai kedutaan besar Amerika Serikat di seluruh dunia. Sebanyak 251.287 komunikasi kabel antar kedutaan ini kebanyakan bersifat tidak rahasia dan tidak ada yang bersifat sangat rahasia. Namun ada 11.000 dokumen yang diklasifikasikan rahasia, 9000 dokumen bersifat ‘noforn’ yaitu dokumen yang bersifat terlalu sensitif untuk dibagikan ke pemerintah asing, dan 4000 dokumen bersifat rahasia dan noforn.

Publikasi hari ini merupakan langkah terkini dari situs tersebut dalam menyiarkan dokumen rahasia pemerintah yang dipublikasikan oleh berbagai media dan organisasi. Sebelum ini Wikileaks telah merilis Afghan War Diary yang berisi 91.000 laporan tentang perang di Afghanistan dari tahun 2004 hingga 2010 serta laporan tentang perang di Irak, salah satunya tentang salah serangan pasukan AS yang menyebabkan korban meninggal dunia dari sipil.

Dokumen-dokumen yang dirilis kali ini menggambarkan korespondensi harian antara Kementerian Luar Negeri AS dengan sekitar 270 kedutaan besar di seluruh dunia dengan informasi politik dan gosip-gosipnya. Ada penggambaran tentang Khadafi yang jarang tidak terlihat bersama ‘perawat senior dari Ukraina’ yang digambarkan sebagai ‘seorang perempuan pirang yang montok’.

Dokumen ini juga menunjukkan adanya peran pemerintah China dalam upayanya melakukan hack ke Google di awal tahun 2010 lalu yang mengakibatkan perusahaan tersebut menarik diri dari China untuk sementara. Disebutkan bahwa menurut laporan seorang kontak di China pada bulan Januari 2010, Politburo China menyutradarai penyusupan ke sistem komputer Google di negara tersebut. Serangan hacking ke Google tersebut merupakan bagian dari kampanye terkoordinasi untuk menyabot komputer yang dilakukan oleh pemerintah, ahli keamanan swasta, dan penjahat internet yang direkrut pemerintah China. Mereka telah masuk ke komputer pemerintah Amerika dan para sekutu Barat, Dalai Lama, serta pebisnis Amerika sejak tahun 2002.

Dokumen ini sepertinya akan mempengaruhi hubungan diplomatik antara AS dengan berbagai negara. Ini bisa dilihat dari adanya bukti bahwa personel Kementerian Luar Negeri dianjurkan untuk mengumpulkan data (memata-matai) para pejabat luar negeri dan PBB. Sebelum dirilis, Wikileaks telah menyebarkan dokumen ini ke berbagai media di seluruh dunia seperti New York Times di AS, Guardian di Inggris, dan Der Spiegel dari Jerman. Sementara itu kementerian Luar Negeri AS telah memberikan briefing ke berbagai negara beberapa hari belakangan untuk mengantisipasi rilis dokumen ini. Gedung Putih juga telah mengeluarkan pernyataan yang mengutuk pembukaan informasi rahasia dan sensitif tersebut yang akan membahayakan keamanan nasional.

Bocoran dokumen-dokumen yang dipublikasikan di Wikileaks ini dipercaya berasal dari seorang prajurit Amerika Serikat bernama Bradley Manning. Bradley Manning dalam sebuah chat dengan Adrian Lamo, seorang hacker komputer, mengatakan telah mengunduh banyak dokumen rahasia dari sistem komputer militer termasuk 260 ribu komunikasi kabel Kementerian Luar Negeri dari berbagai kedutaan dan konsulat di seluruh dunia. Dokumen tersebut menurut Manning telah dikirimkan ke WikiLeaks. Adrian Lamo kemudian melaporkan Prajurit Manning ke otoritas federal yang kemudian menangkap Manning dan menuduhnya telah membocorkan informasi rahasia secara ilegal dan saat ini menghadapi proses pengadilan yang bisa membuatnya dipenjara dalam waktu yang lama.

Sementara itu, beberapa jam sebelum publikasi dokumen, Wikileaks melalui Twitter melaporkan bahwa situsnya mengalami serangan DDoS (distributed denial of service) secara masal. Saat ini situs tersebut susah diakses namun belum diketahui apakah hal ini merupakan akibat dari serangan tersebut atau karena faktor lain seperti banyaknya pengakses.

Belum diketahui apakah ada dokumen rahasia mengenai Indonesia yang dirilis dalam publikasi kali ini. Wikileaks sebelum ini telah merilis beberapa informasi terkait pelanggaran HAM di Indonesia seperti di Timor Leste oleh militer yang menyebabkan korban.

  Pendiri Wikileaks, Julian Assange, menjadi orang paling dicari oleh para penegak hukum di belahan dunia Barat pekan ini setelah ia merilis 250.000 kawat diplomatik rahasia dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di sejumlah negara. Meski demikian, Assange optimistis, apa yang telah ia mulai tak akan bisa dihentikan.
”Sejarah akan menang,” ujar Assange (39) dalam wawancara dari lokasi yang tak diketahui dengan harian The Guardian di Inggris, Jumat (3/12/2010). ”Dunia akan terangkat ke tempat yang lebih baik. Akankah kita selamat? Itu tergantung Anda,” ujar warga Australia yang lama tinggal di Swedia dan kini diduga bersembunyi di suatu tempat di Inggris selatan ini.
Sejak situs www.wikileaks.org merilis ratusan ribu dokumen komunikasi rahasia Pemerintah AS dengan kedubesnya di seluruh dunia pekan lalu, Assange dan Wikileaks menjadi sasaran serangan peretas di dunia maya, ancaman tuntutan hukum, bahkan ancaman pembunuhan. Situs www.wikileaks.org sudah ditutup oleh perusahaan provider di AS sejak Kamis dini hari, dan sejak Jumat telah pindah ke Swiss di bawah nama www.wikileaks.ch.
Perusahaan layanan transaksi keuangan di internet, PayPal, yang berbasis di AS, menyatakan akan menutup saluran donasi secara online kepada Wikileaks dengan menyalahi kebijakan lembaga layanan pembayaran online itu. Situs Amazon.com juga menendang Wikileaks atas tekanan Kongres AS.
Pihak penuntut umum Swedia telah melengkapi surat perintah penahanan Assange seperti yang diminta pihak kepolisian Inggris, Scotland Yard. Assange menjadi buronan aparat Swedia atas tuduhan pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap dua mantan pekerja di Wikileaks.
Surat perintah penangkapan itu berlaku untuk seluruh Eropa. Belakangan, Australia menyatakan akan menangkap Assange atas permintaan Swedia melalui jaringan Interpol. Menteri Industri Perancis Eric Besson mengimbau agar Wikileaks dilarang menggunakan server di Perancis, dengan alasan informasi di situs itu membahayakan.
Para pendukung Assange yakin, sikap negara-negara Barat ini muncul atas desakan AS. Di AS, para politisi marah besar. Senator John Ensign (Republik) dari Nevada mengusulkan amandemen Undang-Undang Spionase AS yang memungkinkan jaksa memiliki keleluasaan untuk menuntut Assange dan organisasinya secara pidana.
Jaksa Agung Eric Holder mengatakan, kebocoran kawat diplomatik ini membahayakan keamanan nasional, usaha diplomatik, dan hubungan AS dengan seluruh dunia.
Menyiapkan ”Cablegate”
Assange dan pendukungnya pun tidak tinggal diam. Beberapa langkah sudah disiapkan para pengacara Assange untuk melindungi pendiri Wikileaks itu dari ancaman pembunuhan dan ekstradisi jika ia ditangkap polisi.
”Ancaman terhadap nyawa kami sudah menjadi hal yang diketahui publik. Kami telah mengambil langkah-langkah pencegahan sejauh yang kami bisa dalam menghadapi sebuah kekuatan adidaya,” tulis Assange dalam obrolan dengan The Guardian.
Salah satu langkah yang menurut Assange telah dilakukan adalah mengirimkan ”Cablegate”, yakni bundel semua dokumen rahasia yang belum dipublikasikan dalam format terenkripsi kepada puluhan ribu orang di seluruh dunia.
Apabila terjadi sesuatu terhadap dia, kata sandi (password) untuk membuka enkripsi dokumen rahasia itu akan otomatis disebar sehingga penerima Cablegate akan bisa membuka bundel dokumen itu dan menyerahkan kepada media massa.
Andaikan situs Wikileaks bisa diblokir, organisasi Wikileaks yang tak terikat negara tertentu ini tetap bisa beroperasi secara langsung dengan membagi-bagikan dokumen-dokumen rahasia ke seluruh dunia.
Para pengamat memprediksi, apa yang sudah dimulai Assange dengan Wikileaks tak mungkin dihentikan lagi. ”Apa pun yang akan terjadi pada nama domain (situs Wikileaks di internet), gagasan yang telah disebar Wikileaks akan terus bertahan,” tutur Joshua Benton dari Nieman Journalism Lab.
Bahkan, beberapa mantan kolega Assange, termasuk mantan juru bicara Wikileaks, Daniel Schmitt dari Jerman, sudah menyatakan akan membuka situs pembocor rahasia lain sebagai tandingan Wikileaks. Langkah Schmitt ini diduga akan segera diikuti banyak pihak lain.
Benton menambahkan, pemerintahan negara-negara yang merasa dirugikan dengan pembocoran rahasia ini harus mencari cara lain untuk menyikapi masalah ini di luar cara-cara tradisional, seperti mengutuk dan mengancam secara hukum para pembocor rahasia itu.
Benton membandingkan fenomena Wikileaks ini dengan fenomena music sharing, yakni pembagian file musik secara gratis melalui internet, yang awalnya ditentang industri musik. Akhirnya, industri musik harus mengalah pada keniscayaan sejarah ini dan harus mencari cara lain untuk mendapatkan uang dari proses pengunduhan file musik.

Dokumen CIA, Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi G30S-1965

RADAR JAMBI: TONI.S

Rate This
Sinar Harapan
30/9/2002 Semenjak kemerdekaan, Indonesia sudah menjadi ladang operasi intelejen dari berbagai negara. Jaringan yang cukup berpengaruh adalah M-16 dari Inggris dan CIA dari AS di samping intelejen RRC dan KGB-nya Uni Soviet. Semua jaringan intelejen ini bekerja di bidang pengawasan, pengaruh, pengarahan operasi, sampai pengambilalihan kekuasaan di tahun 1965 dari Presiden Soekarno oleh Soeharto yang dilandasi dengan satu kepentingan yang pembuktiannya hanya bisa dilihat dalam kelanjutan setelah kudeta 1965.
Kelanjutannya adalah pembantaian massal, pelarangan ideologi komunis,soekarnois dan PKI, dan semua partai maupun organisasi masyarakat yang dekat dengan Soekarno. Bagaimanapun, kejatuhan Soekarno dari kepemimpinan nasional sebagai presiden pertama RI tetap merupakan misteri sejarah. Namun, rentetan peristiwa setelah kejatuhan Soekarno membuktikan peristiwa tersebut terencana sangat matang dan canggih.
Sebuah dokumen operasi Intelejen CIA 1964 – 1966 yang lengkap dari Amerika Serikat telah dibuka pada publik internasional. Dokumen tersebut telah diterjemahkan dan diterbitkan sebagai salah satu bahan untuk meluruskan sejarah yang selama ini terdistorsi kepentingan Orde Baru.
Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno memainkan peranan penting dalam kancah perang dingin antara blok Barat yang dipimpin AS dan blok Timur yang terdiri dari negara-negara sosialis. Kepemimpinan Indonesia terlihat dalam menggalang kekuatan internasional dalam Konferensi Asia-Afrika dan Gerakan Non-Blok maupun NEFO (New Emerging Forces) sebagai garis politiknya untuk menghadapi imperialisme dengan OLDEFO.
Dokumen CIA yang sebelumnya merupakan dokumen rahasia yang berisi sejumlah informasi penting seputar peristiwa tersebut kini telah terbuka untuk publik. Penerbit Hasta Mitra yang dipimpin Joesoef Isak dan selama ini dikenal sebagai penerbit karya-karya Pramudya Ananta Toer, menerbitkan terjemahaan dokumen CIA itu dalam sebuah buku yang berjudul Dokumen CIA, Melacak Penggulingan Sukarno dan Konspirasi G30S-1965.
Mengomentari buku ini, Letjen (purn) Agus Widjojo mengatakan kekuatannya terletak pada kenyataan bahwa ia merupakan dokumen otentik yang menggambarkan kepentingan negara adidaya dalam situasi Perang Dingin. “Pada masa itu ideologi adalah panglima, sehingga dinamikanya antara Barat dan Timur. Namun, faktor intern dalam negerilah yang menentukan terjadinya peristiwa 1965,” ujar putra almarhum Jenderal Soetojo, yang menjadi salah seorang korban peristiwa Gerakan 30 September 1965.
Agus menegaskan secara umum teori pertentangan antara sipil yang dipimpin Soekarno dan PKI berhadapan dengan sebagian TNI-AD adalah faktor internal yang menjadi titik lemah bagi masuknya kepentingan konflik perang dingin, dalam hal ini Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Cina, yang bukan kebetulan dimenangkan oleh Amerika yang mewakili Barat.
Karena itu, Agus Widjojo mengingatkan, bila kita bercermin pada kejadian tahun 1965 itu, dalam situasi krisis multidimensi dan ancaman disintergrasi yang dialami oleh bangsa Indonesia pada saat ini, pilihannya hanyalah melakukan konsolidasi dalam satu rekonsiliasi yang pasti, atau hancur berkeping-keping dalam perang saudara dan intervensi asing di bidang ekonomi maupun politik
Keterlibatan Rusia dan RRC
Mengomentari buku yang akan diluncurkan itu, mantan aktivis angkatan 66 dan Forum Demokrasi, Rahman Toleng, berharap agar jangan cuma keterlibatan CIA saja yang dilihat pada waktu persitiwa 1965 tersebut. Dia juga mengindikasikan keterlibatan agen-agen RRC dan Rusia di belakang peristiwa tersebut.
Mantan Wakil Ketua MPRS, pada tahun 1966, Mayjen (Pur) Abdul Kadir Besar, mengingatkan faktor di dalam negeri juga berperan seperti pernyataan Anwar Sanusi (anggota CC PKI/Anggota Front Nasional) sebelum peristiwa 30 September 1965, bahwa ibu pertiwi sedang hamil tua. “Itu merupakan sebuah tanda akan terjadi kejadian besar tersebut. Oleh karena itu, data-data dari dalam negeri pun juga harus dijadikan pembanding dokumen CIA tersebut,” ujarnya.
Dalam pandangan Abdul Kadir, PKI punya rencana 4 tahunan dalam demokrasi parlementer-terpimpin ala Soekarno yang yakin akan menang dalam Pemilu.
Namun karena peringatan dokter-dokter Cina tentang gawatnya penyakit Soekarno, PKI khawatir TNI AD akan mendahului merebut kekuasaan. “Oleh karenanya, PKI mendahului dengan G30S-nya,” jelasnya.
Dokumen Gilchrist
Untuk membaca dokumen CIA ini mungkin dibutuhkan satu latar belakang historis. Seorang purnawirawan perwira tinggi TNI-AD berusaha mendudukkan alur secara kronologis.
Dalam pandangannya, peristiwa 1965 dipicu oleh sebuah dokumen yang bernama Dokumen Gilchrist. Gilchrist—duta besar Inggris pada waktu itu—sebagai pelaksana operasi intelejen Inggris dan AS, mengeluarkan dokumen yang berisikan situasi palsu tentang konsolidasi TNI-AD, yang disebutnya sebagai Dewan Jenderal.
Dokumen ini yang dibawa oleh Chaerul Saleh, tokoh Partai Murba ke Soekarno, Subandrio, dan akhirnya Adit. Dalam sebuah pesta sebelumnya di Eropa, Gilchrist pernah berkata bahwa satu kali tembakan akan mengubah Indonesia.
Belakangan baru terungkap, sekretaris dubes Inggris-lah yang mempersiapkan skenario operasi anti-PKI dengan isu amoral, asusila, dan anti-agama yang kemudian dilansir ke sejumlah koran Ibu Kota seperti Merdeka, Berita Yudha, dan Angkatan Bersenjata. Hal ini terungkap karena ada satu dokumen telegram kampanye dengan isu tersebut ke redaksi Merdeka.
Menurut sumber itu, menanggapi situasi yang digambarkan Dokumen Gilchrist, Soekarno memerintahkan untuk segera mengatasi persoalan ini. Kolonel Soeparjo dan Kolonel Mursid kemungkinan menolak yang kemudian jatuh ke Letkol Untung sebagai pelaksana G30S.
Kalau benar DN Aidit ingin melakukan revolusi dari atas, langkah itu keliru karena dia tidak melibatkan jajaran TNI yang berpihak ke PKI, dan harus diingat Letkol Untung ternyata bukan dari kalangan tersebut.
Operasi Pembasmian
Ada hal menarik dalam buku itu, seperti daftar nama 500-an pemimpin PKI yang dikeluarkan oleh CIA dan disampaikan lewat Adam Malik ke TNI-AD yang berbobot perintah operasi pembasmian secara cepat agar PKI benar-benar lumpuh rantai komandonya. Hanya dengan operasi cepat inilah AS percaya dapat melumpuhkan PKI dan dapat menaikkan moral TNI-AD untuk melawan Soekarno dan PKI.
Hanya sedikit perwira yang memiliki keberanian dan pengalaman melawan Soekarno, yaitu mereka yang terlibat di PRRI dan Permesta semacam Zulkifli Lubis, Vence Sumual, Kawilarang, dan tentu saja Kemal Idris.
Aktivis buruh Dita Indah Sari mengomentari bahwa dokumen-dokumen dalam buku ini memang membuktikan pendanaan dari pemerintah AS yang dijalankan oleh CIA adalah untuk operasi penggulingan Soekarno. Hal ini didahului oleh tindakan mata-mata terhadap semua kegiatan dan keputusan Soekarno, terutama sehubungan dengan konfrontasi dengan Malaysia dan pengiriman relawan ke Malaysia.
Hal-hal itu terungkap dalam semua dokumen percakapan telepon, telegram, maupun surat rahasia pejabat-pejabat AS baik di Amerika maupun di Indonesia seperti: Lindon Johnson (Presiden AS), Dean Rusk (Menteri Luar Negeri), Mc Namara (Menteri Pertahanan), Howard Jones (Dubes AS di Indonesia), V. Forrestal (Staf Dewan Keamanan Nasional), Mc George Bundy (Assisten Khusus Presiden Urusan Keamanan).
Seperti yang tertuang dalam halaman 156-158: Memorandum dipersiapkan CIA untuk State Department (dari Colby untuk Bundy) 18 September 1964 tentang prospek untuk aksi tersembunyi …di antara mereka beberapa telah menunjukkan kemampuan melakukan kegiatan politik tersembunyi meskipun terbatas namun efektif. Lebih jauh ada terdapat sejumlah pendekatan ke kedutaan dan komponen misi lainnya oleh individu-individu—beberapa untuk kepenitngan diri sendiri, yang lain adalah untuk mencari bantuan agar mereka mampu melawan komunisme di Indonesia…untuk itu kami mengajukan sebuah program aksi tersembungi yang intensif, terbatas pada tujuan awalnya, tapi dirancang untuk ekspansi jika situasi mengijinkan.
Konteks Perang Dingin
Mengenai pengungkapan berbagai dokumen itu, James D. Vilgo, seorang pensiunan Letnan Kolonel AS, menegaskan bahwa dokumen tersebut harus ditempatkan pada konteksnya, yaitu masa Perang Dingin, di mana intelejen AS memang bekerja secara ofensif. “Situasi politik sekarang sudah berbeda, Kongres dan Senat AS justru mengontrol semua kegiatan militer dan intelejen AS, agar tidak bekerja terlalu jauh. Dokumen ini adalah salah satu bukti kontrol yang membuka semua operasi intelejen AS, sama seperti dokumen yang bersangkutan dengan Indocina, Chili, dan ope-rasi di berbagai tempat lainnya. Justru transparansi ini seharusnya diikuti oleh Indonesia yang sedang dalam masa transisi sekarang,” ujarnya.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa data-data dari AS ini seharusnya dilengkapi dengan data-data dokumen yang dikeluarkan oleh pihak Indonesia sendiri agar masyarakat tahu sebenarnya apa yang terjadi dan menjadi pelajaran agar tidakterulang lagi.
Dalam era reformasi sekarang ini, ujarnya, yang terpenting adalah sebuah usaha untuk mengubah paradigma, terutama dalam pendidikan sejarah yang harus seobjektif mungkin. Sebuah komite penyelidikan dapat dibentuk oleh sipil dan melibatkan intelektual dalam dan luar negeri untuk memberikan masukan pada MPR/DPR, sehingga punya kekuatan seperti Kongres dan Senat AS.
Dalam pandangannya, soal keterlibatan AS, tidak bisa dilihat secara sepihak karena sebenarnya yang berpengaruh adalah situasi dalam negeri pada waktu itulah yang mengkhawatirkan AS. Posisi AS adalah peninjau yang terlibat kemudian.
Cuci Tangan
Namun Dr. Salim Said, menegaskan bahwa penerjemahan dan penerbitan buku ini jangan menjadi ajang cuci tangan PKI terhadap peristiwa 1965. Memang Amerika terlibat, tapi aspek-aspek lain juga di luar Amerika harus diperhitungkan, jelas buku ini diterbitkan oleh Hasta Mitra supaya menjernihkan persoalan terutama, soal keterlibatan AS, jangan malahan menjadikannya semakin kabur.
Joesoef Isak sendiri menegaskan dalam pengantarnya bahwa penerbitan buku ini sama sekali tidak bermaksud membangkitkan kemarahan rakyat Indonesia kepada dunia Barat.
“Kita sepenuhnya sadar bahwa juga di dunia barat maupun di Amerika terdapat cukup banyak unsur-unsur The New Emerging Forces dalam semua tingkatan kehidupan mereka yang sama-sama mendambakan persahabatan dan perdamaian di dunia ini. Sebaliknya kita juga sadar, bahwa kekuatan besar The Old Established Forces masih kuat bercokol dan mengacau rumah tangga kita sendiri,” ujarnya.
Ia melanjutkan bahwa itulah sebabnya globalisasi ekonomi-politik dan globalisasi intelejen yang berwatak destruktif bagi kemanusiaan, keadilan yang beradab, dan perdamaian bumi manusia, mutlak juga harus dihadapi dengan kerja sama dan penggalangan globalisasi solidaritas The New Emerging Forces sedunia.

No comments:

Post a Comment